Senin, 01 Agustus 2011

Bisakah Memperbaiki Kebiasaan Buruk Pasangan Kita?

Bisakah Memperbaiki Kebiasaan Buruk Pasangan Kita?
Bisakah Memperbaiki Kebiasaan Buruk Pasangan Kita?

Riset membuktikan, salah satu pasangan pasti lebih berantakan dibandingkan lainnya. Tak pelak, hampir 80 persen pasangan menikah mengakui bahwa hal ini bisa menimbulkan ketegangan dalam hubungan mereka. Begitu hasil penelitian Eric Abrahamson, seorang profesor dari Columbia University, bersama rekannya, David H. Freedman, yang juga penulis buku A Perfect Mess.

Tak hanya itu, masih ada lagi "bawaan" pasangan yang kerap menjadi ganjalan tersendiri dalam hati kita. Seperti tidur mendengkur, bersendawa keras sehabis makan, atau suara tawanya yang sering menggelegar bak petir di siang bolong. Kadang-kadang kita mungkin berpikir, kok bisa ya menikah dengan orang seperti ini? Lalu, berandai-andai kita sudah mengendus "kejahatannya" sejak pacaran.

Masalahnya, saat pacaran kita cenderung menampilkan sisi baik diri saja. Ini ditegaskan oleh studi dari Michael Cunningham dari University of Louisville, yang mengamati 160 pasangan dan menemukan adanya kecenderungan menekan kebiasaan buruk pada masa pacaran. Setelah hubungan menjadi lebih serius, katakanlah telah sampai pernikahan, mereka jadi lebih rileks dan tampil apa adanya, imbuh Cunningham.

Lalu, adakah yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?

"Sebenarnya, setiap orang punya cara dan karakternya sendiri. Saat kita menikah dengan dia, apa tujuan kita? Apakah kita ingin menikah dengan orang yang kaya? Atau kita ingin menikah dengan orang yang selalu mengungkapkan rasa cintanya? Apakah itu sudah tercapai? Bila sudah, itu cukup. Jangan minta imbuhan," papar Ratna Mardiati, psikiater dari Klinik Angsamerah.

"Misalnya, saya mau menikah dengan dia, tapi tidak boleh mendengkur. Lha, itu memang sudah 'bawaannya'. Kita menikah dengan pribadinya, sudah satu paket. Jadi, jangan berharap dia akan berubah setelah menikah," ujarnya lagi.

Sebagai tambahan, terapis masalah keluarga dari California, Cloe Madanes, berkata, "Bahkan, katakanlah dia bisa berubah, sehebat apapun Anda melakukannya dia tetap tidak akan berubah menjadi seperti yang Anda inginkan."

Singkat kata, lebih mudah jika kita mengubah cara berpikir kita sendiri. Alih-alih merasa kesal akan kebiasaannya meninggalkan piring kotor di sofa, lebih baik ingat betapa dia sangat perhatian pada kondisi mobil keluarga. Jadi lebih baik, kan?

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates